Moral dan Realita yang Mengerikan

Suasana dunia begitu mengerikan dan mencekam. Kabar berita di media sosial dibanjiri oleh pemberitaan serangan kelompok militan Palestina yang dipimpin oleh Hamas terhadap Israel. Penculikan sejumlah tentara dan masyarakat sipil Israel menjadi pemberitaan di seluruh dunia, tindakan Hamas pun mendapat kecaman dari masyarakat yang pro-israel. Di media sosial, pengguna mulai membuat tagar-tagar bring them back home sebagai kecaman terhadap tindakan mereka. Kejadian yang terjadi pada 7 oktober 2023 lalu setidaknya menyita perhatian dunia baik bagi yang pro-Israel atau Palestina.  Bagi mereka yang tidak paham benar dengan situasi ini justru paling enteng bersuara dengan memuat postingan wilayah Palestina yang dibombardir tetapi menulis keterangan pray for Israel. Lantas ia pun diserang oleh netizen, mencemooh dan menertawakan kesembronoannya. Media Barat khususnya menjadikan momen ini sebagai sebuah kesempatan untuk menjadikan ini sebagai sebuah pengakuan bahwa Hamas adalah gerakan terorisme yang perlu diperangi. 

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan perang melawan Hamas, dimulailah aksi-aksi balasan yang dilancarkan di Jalur Gaza hingga invasi ke wilayah Tepi Barat. Hingga tulisan ini dibuat lebih dari 24.000 korban yang meninggal akibat peperangan ini. Serangan balasan ini kian membabi buta, tempat layanan publik dimana tempat masyarakat berlindung telah hancur. Pihak Israel menuduh rumah sakit sebagai markas Hamas dan masyarakat sipil sebagai tameng mereka. Tidak ada tempat untuk lari dari kepungan masif itu, siang dan malam adalah derita. 

Masyarakat dunia tidak ingin bungkam dengan keadaan ini dan ini hal baik bagi kemajuan dunia dimana setiap kekejian kini terlihat jelas. Dunia pun bisa merespon dengan cepat. Unjuk rasa terlihat di seluruh negeri tak terkecuali Indonesia, ini bukanlah kesia-siaan berjalan di tengah jalan, memblok lintasan jalan, bersuara menyerukan “freepalestine.” 

Bila membaca sejarah masa lalu, Amerika tidak pernah melirik Israel sebagai sekutu hingga Israel bersedia menjadi pangkalan militer bagi Amerika Serikat yang terobsesi pada sebutan negara super power. Sementara Palestina tidak demikian, tidak ada yang dijanjikan untuk kepentingan Amerika. Tanpa dukungan dari Amerika, Israel tidak dapat berjalan tenang. Meski kini PBB Sebagian besar dikuasai oleh Amerika, tetap saja tak dapat membuat penyelesaian diplomatik karena ini sudah berjalan 70 tahun lebih dan selama itu pula Amerika terus menjadi pengrusak diplomatik bagi kemerdekaan dunia. 

Amerika Serikat tidak hanya menghalangi kemerdekaan rakyat Palestina tapi juga apa yang terjadi di belahan dunia manapun yang terlibat dalam peperangan, yang terjadi beberapa dekade lalu, misalnya perang AS-Vietnam hingga kini tidak diketahui berapa jumlah pasti kematian masyarakat sipil karena itu tidak pernah disebutkan. Dunia membutakan sejarah dengan film-film yang memperlihatkan kebaikan Amerika .

Amerika bahkan melakukan veto terhadap tuntutan PBB setelah membunuh 20 ribu orang di Lebanon. Tak ada yang berani menyebut ini sebagai sebuah kekejian dan mengutuk mereka karena suara mereka dominan di Dewan Keamanan. Itu sebabnya, yang sangat berguna saat ini adalah demonstrasi ribuan massa di tengah jalan atau serangan melalui media sosial. Lagi-lagi kita menyebutnya keuntungan dunia modern. 

Sejauh peperangan ini, Israel hampir tak tersentuh karena dukungan dari negara Barat. Mereka mencoba membutakan dunia dengan menfitnah korban sebagai pelaku dan menjadikan diri  sebagai negara yang meredam konflik tapi sebenarnya merekalah mafia yang mengerikan itu. Chomsky menyebut mereka sebagai kriminal yang mengerikan. 

Apa yang dilakukan oleh Israel dan Amerika terhadap rakyat Palestina adalah ilegal, meski agaknya sulit menyebut sebagai kejahatan perang karena perang itu sendiri adalah kejahatan. Artinya pula para petinggi Amerika dan Israel harus diseret ke meja hijau. Itu pula yang mestinya terjadi di konvensi Jenewa namun Amerika tidak menghadiri pertemuan; hal itu meningkatkan aksi-aksi kekejaman. 

Apa yang sebenarnya terjadi untuk perdamaian dunia bila Amerika terlibat: sebuah masalah, seperti yang disebutkan Chomsky dalam sebuah wawancara tentang kajian yang dilakukan oleh Edward Herman, relasi antara bantuan Amerika dengan penyiksaan dan hasilnya benar-benar mengejutkan. Dalam catatan Amnesti Internasional mengenai penyiksaan dan bantuan luar negeri, akan tampak hubungan sangat dekat. Chomsky melanjutkan bahwa di sini kita bisa melihat arah kebijakan pemerintahan Amerika Serikat bahkan hingga hari ini. Lalu apa yang akan dilakukan untuk tetap menjadi satu-satunya negara yang memegang kendali dominan atas dunia? Yaitu membunuh para aktivis organisasi, pemimpin petani, menyiksa para pastur, membantai para petani, merusak program sosial, dan sebagainya. Meminggirkan hak rakyat Palestina, juga salah satu yang perlu dilakukan karena dianggap sebagai gangguan yang membangkitkan “jalan Arab”. Di satu sisi, Israel terdiri atas masyarakat kaya dengan industri teknologi tingkat tinggi yang canggih, terutama di bidang militer. 

Sejak 1967, Israel memberi bantuan besar kepada Amerika serikat dan sekutunya Arab Saudi dengan menghancurkan virus Nasserite yang hingga kini Israel menjadi pusat investasi Amerika untuk teknologi tingkat tinggi. Dalam hal ini, Arab abstain untuk membela Palestina, sebagaimana kita tahu bahwa Arab kini memiliki hubungan baik dengan Barat. Jadi sudah cukup jelas bahwa tidak ada kepentingan bangsa Arab untuk kemerdekaan Palestina karena kerja sama politik dibangun atas dasar kepentingan. 

Kita adalah Kaum Intelektual

Banyak sekali penelitan yang dilakukan oleh para intelektual dunia terkait isu konflik dunia dan apa yang terjadi di Palestina. Ini memberi gambaran kepada kita peran penting dari para intelektual untuk menguak fakta yang sengaja disembunyikan dari mata masyarakat. Tak dapat dipungkiri bila kehadiran para sarjana juga demikian. Dengan imbalan uang,  mereka telah menulis sebuah ilmu pengetahuan yang tak dapat dengan mudah dilakukan oleh orang non akademis. Sehingga kita patut berterima kasih kepada mereka. 

Para intelektual yang dengan berani menguak fakta dunia dengan cukup berani, seperti Chomsky dalam beberapa karyanya terkait isu konflik dunia; tidak cukup ramah bagi pemerintahan Amerika. Albert Enstein dengan pemikiran bebasnya, mengungkapkan keraguannya tentang negeri Israel, hingga Jorge Orwel mengenai kebusukan politik yang berupaya menguasai dunia dengan cara yang keji. Apa yang mereka lakukan adalah sebuah tanggungan bagi dunia akademis untuk dunia yang lebih baik. Apalagi ditengah gempuran arus informasi media tanpa batas ini, seseorang yang hendak tahu lebih baik terkat konflik ini sebaiknya berupaya mencari tahu kebenarannya dari sumber terpercaya. Dengan berpedoman pada mencari kebenaran tadi saya pikir kita tidak akan tersesat dan suara kita akan berguna. 

Kita telah banyak bersaing tentang mana yang benar dan salah, kedua-duanya dibungkus atas kepedulian dan cinta akan tanah air. Jika anda bertanya kepada orang Israel yang mana peta negara Israel, maka mereka akan menunjuk dalam satu peta (Palestina). Bila anda meminta orang Palestina menunjuk negaranya di peta, maka jawabannya ada di tempat yang sama (Israel).  Namun dalam situasi yang sulit ini tidak ada waktu untuk memperdebatkan benar dan salah seperti yang dilakukan di bangku dewan, sementara setiap menit ada saja anak yang terbunuh oleh senjata api. 

Sumber: 

  1. Chomsky, Noam. 2011. Power and Terror. Roudledge. NYC.
  2. Chomsky, Noam. 2018. Who Rules the World. Metropolitan Books/Henry Holt & Co. NYC

DItulis oleh Kasumah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *