
Saat pertama kali menginjakkan kaki di Desa Baling Karang, Kabupaten Aceh Tamiang, kami disapa dengan suara gemericik air sungai yang deras, ditambah senyum hangat warganya yang bikin nyaman. Kami datang bukan sekadar numpang lewat, tapi mencoba menjadi bagian dari kehidupan mereka, walau hanya sebentar. Di sinilah pertualangan kami dimulai. Sebuah perjalanan menjadi relawan yang bukan hanya soal berbagi, tapi juga belajar banyak hal dan menciptakan momen yang akan selalu diingat. Dengan semangat yang tinggi, kami ingin meninggalkan jejak baik, walau sekecil apapun itu.
Hari-hari kami diisi dengan tawa anak-anak, lembaran kertas, cat warna-warni, bebatuan dan tumbuh-tumbuhan. Konten kali ini mengusung pendekatan kreatif untuk menghasilkan karya yang merangsang imajinasi, kesenian, motorik, serta kesadaran anak-anak tentang lingkunagn sekitarnya.
Konten pertama kami adalah “Melukis di Kanvas Dengan Tema Rempah-Rempah”. Kami memperkenalkan kepada anak-anak berbagai macam jenis rempah-rempah yang ada di desa mereka. Dengan penuh semangat anak-anak itu mencampurkan berbagai warna untuk mendapatkan warna yang mereka inginkan, lalu kemudian mereka mengoleskan warna tersebut di kanvas dengan ceria. Kami sangat membebaskan anak-anak tersebut untuk berekspresi melalui lukisan mereka. Tak butuh waktu lama mereka mengerjakan lukisan itu. Hingga pada sore hari, waktu untuk pengumpulan semua karya, banyak dari mereka yang ingin membawa pulang kanvasnya karna takjub akan lukisannya sendiri. Kami merasa senang sekali ketika melihat mereka sangat antusias dengan hasilnya.
Keesokan harinya adalah konten membuat “Nirmana dan Game Motorik Kasar”. Untuk anak-anak besar membuat nirmana. Kami memberitahu mereka bahwa nirmana adalah seni menyusun bentuk visual dari kertas lipat. Lebih kurang kegiatannya seperti menyulam untuk membuat tikar, hanya saja nirmana ini dilakukan dari kertas. Bukan hanya sekedar karya, namun konten nirmana ini untuk melatih fokus dan konsentrasi serta melatih jiwa kesenian dan estetika dalam diri setiap anak. Mereka menyusun lipatan demi lipatan kertas kecil itu dengan sabar dan perlahan agar hasilnya bagus. Beragam warna mereka gunakan berdasarkan warna kesukaan masing-masing. Adapun anak-anak kecil membuat game motorik kasar yang terbuat dari stik dan roll sampul buku yang diwarnai. Konten ini bukan sekedar permainan, tapi melatih motorik dan semangat kebersamaan mereka.
Selanjutnya, dengan mengusung semangat mencintai alam, kami memperkenalkan dan membuat konten “ecoprint” kepada mereka. Mungkin istilah ini sedikit asing didengar anak-anak. Kami memberitahukan kepada mereka bahwa dedaunan di sekitar mereka bisa dicetak secara alami ke kain dengan cara diketuk pakai batu. Anak-anak itu sangat antusias ketika diajak ke arah sungai untuk mencari dedaunan yang akan dicetak ke kain. Masing-masing mencari sekitar tiga atau empat lembar daun dan satu batu berukuran sedang sebagai pengetuknya. Lalu mereka mengetukkan daun-daun tadi ke kain putih yang dilapisi plastik bening tipis. Suara ketukan-ketukan itu cukup berisik, tapi tidak membuat sakit kepala mendengarnya. Ketika selesai, semua anak-anak itu takjub dengan hasilnya. Motif indah alami dedaunan itu menempel sempurna di kain putih. Dari konten ini menumbuhkan kesadaran anak-anak bahwa tanaman disekitar mereka tinggal menyimpan banyak keindahan yang bisa dijadikan sebagai karya.
Tak kalah seru, keesokan harinya kami membuat “Game Susun Warna dan Miniatur Pohon Asam”. Permainan susun warna untuk anak-anak kecil yang menggunakan bambu dan roll sampul buku yang diwarnai. Rol itu dipotong-potong membentuk gelang lalu dimasukkan ke dalam bambu sesuai warnanya. Sedangkan untuk anak-anak besar kami ajarkan membuat miniatur pohon asam. Ada satu tanaman yang sangat khas di desa mereka, namanya asam gelugur. Sebelum itu kami ditemani anak-anak untuk mencari buah asam gelugur itu. Letaknya di tepi sungai, pohonnya cukup tinggi membuat kami kesusahan untuk mengambil buahnya. Singkat cerita kami melempar buah tersebut dengan kayu lalu berhasil dibawa pulang ke Pustaka untuk dijadikan contoh ketika membuat miniaturnya.
Buah asamnya bulat seperti bentuk jeruk, tapi lebih besar dari itu. Untuk bahan membuat miniaturnya kami menggunakan balon berwarna hijau dan kuning sebagai buahnya, dalam buahnya diisi dengan kain perca, kawat kecil sebagai batangnya dan benang jahit untuk mengikatnya. Terlihat anak-anak sangat semangat membuatnya. Sambil membuat, anak-anak itu bercerita tentang kegunaan asam tersebut dan cara mengolahnya. Dalam suasana kreatif itu,kami sisipkan cerita kepada mereka untuk mencintai dan menjaga lingkungannya. Kami beritahu juga bahwa desa mereka mempunyai satu tumbuhan unik, yang tidak ada di desa lainnya.
Hari berikutnya diisi dengan konten “meramban”. Meramban adalah kegiatan menjelajah alam sekitar desa untuk mengenal tumbuhan liar yang bisa dimanfaatkan, baik sebagai makanan maupun sebagai obat. Anak-anak diajak berjalan kaki untuk mencari berbagai tanaman. Sepanjang perjalanan mereka menceritakan tumbuhan yang mereka lihat. Sangat beragam tumbuhan yang mereka dapat, ada pakis, daun papaya, daun jeruk dan masih banyak lagi tanaman lain yang namanya asing kami dengar. Setelah selesai meramban, kemudian anak-anak menggambarkan dan menuliskan tumbuhan apa saja yang mereka dapat serta kegunaannya. Lagi-lagi mereka memberitahu kepada kami tentang hasil alamnya yang melimpah ruah dan mereka bercerita tentang cerita lokal yang ada di desa mereka.
Pada hari berikutnya, kami membuat konten “visualisasi Emosi Dari Bebatuan”. Anak-anak mengambil batu-batu kecil dari sungai untuk dijadikan bentuk emosi. Membuat bentuk emosi di atas karton bukanlah sekadar emosi biasa, namun emosi itu mewakili perasaan mereka tentang lingkungan sekitar mereka. Mereka tinggal di tengah-tengah kebun sawit dan ternak lembu. Banyaknya lembu yang berkeliaran di jalanan menyebabkan jalanan jorok dan bau karena kotorannya yang berserakan. Curah hujan juga cukup tinggi di sana dan tidak jarang terjadi banjir akibat meluapnya air sungai. Melalui pendekatan emosional yang hangat, kami menceritakan tentang keadaan desa mereka sebagai pemantik untuk melihat emosi spontan mereka. Dan berhasil, kami mendapatkan jawaban itu dari ekspresi wajah mereka. Lalu perasaan atau emosi mereka divisualisasikan dalam bentuk emoji dari batu kecil yang disusun. Maksud dari konten ini adalah untuk menggali kesadaran emosional anak-anak tentang kondisi desanya.
Keesokan harinya adalah hari terakhir kami membuat konten bersama anak-anak. Kami membuat konten “Stone Painting dan Membuat Labi-Labi”. Bebatuan di desa Baling Karang sangat bagus dan sangat cocok untuk dilukis. Stone painting ini dikhususkan untuk anak-anak kecil. Masing-masing anak memilih batu pipih di sungai untuk dilukis dan diwarnai. Begitu antusiasnya mereka mencampuradukkan berbagai warna. Imajinasi mereka megalir bebas, memberi warna pada benda yang kadang sering kali dibiarkan begitu saja. Dari bentuk batu polos yang sederhana, lahirlah berbagai macam lukisan dan karakter. Ada anak yang menggambar pemandangan, ada yang menggambar karakter hewan dan bahkan ada anak yang membuat lukisan abstrak, hanya dia yang tahu filosopi dari goresan warna di batunya. Dari situ memberikan kesadaran kepada anak-anak bahwa batu polos sekalipun bisa bernilai estetika.
Konten yang tak kalah menggemaskan adalah membuat labi-labi, konten ini khusus anak-anak besar. Labi-labi itu dibuat dari kardus dan kertas karton. Kardus yang dibentuk labi-labi kemudian dicat agar mirip seperti hewan aslinya. Disela-sela menggunting dan mengecat, anak-anak bercerita tentang labi-labi itu, dimana tempat tinggalnya dan bagaimana rasanya. Ada satu anak, namanya Rahman yang mengatakan rasa dari labi-labi itu seperti rasa daging lembu. Dari potongan kardus bekas, lahirlah karya seni yang mengingatkan mereka akan hewan khas daerah mereka.
Selama beberapa hari itu, kami bukan hanya mengajar dan membimbing, namun kami juga belajar. Banyak hal yang bisa kami pelajari mulai dari rasa tentang kesederhanaan, kebersamaan, dan betapa kuatnya pengaruh kreativitas dalam membangun koneksi. Desa Baling Karang telah menjadi kanvas bagi kami untuk menorehkan warna, harapan, dan kenangan. Ketika kami pamit, tangan-tangan kecil melambai dan manisnya wajah anak-anak itu dengan senyum yang tak akan pernah kami lupakan.
Agustus, 2025
Ditulis oleh Syakila Husna


