
Bagiku perjalanan ini lebih tepat disebut proses menuai pembelajaran. Aku tidak pernah membayangkan akan mendapatkan kesempatan ini, tapi kini dengan bangga akan kubagikan bagaimana aku benar-benar mengambil Pelajaran dari dampak yang diberikan Program Pustaka Kampung Impian (PKIP) yang diinisiasi oleh Rumah Relawan Remaja (3R) untuk meningkatkan awareness terhadap diriku sendiri maupun lingkungan di sekitarku.
Perjalananku mengenal 3R dimulai pada 10-11 Januari 2025. Aku mengikuti pembekalan untuk para relawan Pustaka Kampung Impian (PKIP) yang akan diberangkatkan satu bulan lagi ke desa yang ada di Aceh Selatan dan Aceh Tengah. Proses pembekalan ini dijadwalkan dua hari berturut-turut dengan menghadirkan pemateri-pemateri yang luar biasa menginspirasi. Tempat tinggalku dan Rumah Relawan Remaja (3R) terpisah dalam jarak 10 km, hal ini membuat survival skill-ku aktif saat melihat google maps yang menunjukkan dimanalokasi 3R berada. Dengan cepat, aku menyiapkan perlengkapan ekstra untuk berangkat pembekalan hari pertama karena aku sudah membuat keputusan akan bermalam di 3R menyambut pembekalan hari kedua. Selain dapat menghemat tenaga, dengan bermalam aku juga dapat menghemat ongkos ojek online (ojol), ditambah lagi mendapatkan bonus berupa kesempatan mengenali budaya yang diterapkan oleh 3R lebih dalam.
Salah satu budaya menarik yang ada di 3R menurutku adalah budaya makan bersama. Setiap waktu makan (pagi, siang, dan malam) diadakan makan bersama oleh semua orang yang sedang berada di 3R. Makan bersama dilakukan di atas meja panjang yang terbuat dari kayu yang penuh dengan tulisan-tulisan bermakna, siapapun akan bersedia berlama-lama menikmati iklim yang ada di sekitar meja ini. Peraturan yang diterapkan setelah makan adalah semua orang wajib mencuci piring masing-masing setelah selesai makan, titik. Hal ini menjadi menarik menurutku karena menyelipkan pengajaran berupa pentingnya rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri tanpa membedakan antara laki-laki dan perempuan. 3R juga mengolah plastik bekas menjadi ecobrick. Proses membuat ecobrick ini dimulai dari mencuci plastik tersebut hingga kering lalu dimasukkan dengan padat dalam sebuah botol plastik. Di 3R tidak tersedia tempat sampah. Beruntungnya saat itu aku tidak spontan menanyakan dimana tempat sampah ketika hendak membuang sampahku, hal tersebut tentu saja akan membuatku malu pada dua orang relawan muda 3R yang menjelaskan bagaimana pertanggungjawaban terhadap sampah yang dilakukan oleh setiap individu yang ada disana.
Ta’aruf dengan 3R dalam dua hari saja membuatku banyak memetik pelajaran untuk kubawa pulang, dan itu belum cukup. Melalui kegiatan Pustaka Kampung Impian (PKIP) aku berkesempatan berinteraksi lebih intens dengan para relawan 3R khususnya dalam membawa misi kemanusiaan kepada orang-orang yang lebih jauh.
Aku ditempatkan di Desa Ketol, Kabupaten Aceh Tengah untuk penempatan Pustaka Kampung Impian (PKIP) pada Februari 2025 ini. Pukul 06.00 WIB kami sudah sampai ke Simpang Balik (lokasi pemberhentian bus dari Banda Aceh ke Aceh Tengah). Udara di tempat ini sangat dingin sehingga membuatku tidak habis pikir saat pertama kali masuk ke kamar mandi masjid tempat kami beristirahat sementara, aku mendengar suara air yang disiramkan dengan deras dari dalam kamar mandi masjid. Berdasarkan suara tumpahan airnya, aku menduga orang yang ada di kamar mandi sedang mandi dan hal tersebut membuatku bertanya dalam hati, “apakah dia tidak kedinginan?”. Saat aku mulai menghidupkan kran air untuk mengambil wudhu, aku terkejut karena air yang menyirami telapak tanganku ternyata adalah air hangat, hal ini membuatku senang dan langsung memberitahu teman-temanku tanpa berpikir panjang barang saja mereka memang sudah tahu ini dari lama, hanya aku saja yang tidak tahu apa-apa. Fakta air hangat ini saat dikaitkan kembali dengan orang yang tadi mandi pada subuh dingin itu menjadi biasa saja, mandi dengan air hangat akan membuat tubuh yang kedinginan lebih terasa nyaman, bukan?.
Perjalanan menuju Desa Ketol dilanjutkan ketika Pak Reje (Sebutan untuk Kepala Desa Ketol) sudah tiba menjemput kami. Perjalanan dari Masjid Simpang Balik ke Desa Ketol menghabiskan waktu sekitar satu jam melewati banyak turunan dan pendakian yang membuat perjalanan ini mendebarkan sekaligus mengasyikkan. Kami disambut oleh masyarakat dengan sangat baik ketika tiba di Desa Ketol. Para anak-anak berdatangan silih berganti mengunjungi kami dan antusias melontarkan pertanyaan terkait gambaran kegiatan yang akan dilangsungkan selama tinggal di desa mereka.
Selama tingal di Desa Ketol, kegiatan rutin PKIP adalah membuka lapak baca untuk anak-anak. Anak-anak akan diberikan kesempatan membaca buku yang sudah disiapkan oleh 3R. Bagi anak-anak yang belum bisa membaca, diberikan kesempatan untuk belajar atau dibantu membacakan buku yang ingin dibacanya. Anak-anak senang sekali memintaku membacakan cerita dari buku yang mereka pilih sendiri. Saat aku mulai bercerita dengan mimik wajah yang menyesuaikan isi cerita, anak-anak disekitarku terus bertambah jumlahnya dan semakin ramai mengelilingiku hingga cerita berakhir. Cerita favorit mereka adalah cerita Timun Mas dan Buto Ijo, mereka kerap memintaku mengulang cerita yang sama setiap harinya.
Aku berkolaborasi dengan teman relawan lainnya menjadi penanggung jawab pada beberapa kelas seperti storytelling, melukis, mengajarkan cara memanfaatkan sampah plastik, hingga memberikan psikoedukasi dengan tema “mengenal bagian privasi tubuh”. Anak-anak selalu bersemangat menunggu kelas dimulai setiap harinya, mereka senang hadir lebih awal menyambut kelas dimulai. Aku sangat senang melihat antusias mereka dalam belajar dan ini tertular padaku untuk lebih antusias lagi memulai kelas bersama mereka.
Selama di Desa Ketol, kami para relawan 3R akan melakukan briefing dan simulasi terkait gambaran kelas hari itu sebelum kelas dimulai. Setelah berkegiatan seharian, kami akan melakukan evaluasi saat malam tiba sambil bercengkrama menikmati kebersamaan. Dua hari pertama aku masih canggung dalam menyampaikan pendapat saat mengikuti ketiga proses rutin (briefing, simulasi, dan evaluasi). Pada hari ketiga, aku teringat pada tulisan yang dibingkai di dinding depan meja dapur 3R yang berjudul “Our Promises” yang dituangkan dalam berbagai bahasa yaitu Bahasa Indonesia, England, Japan, dan Korea. Salah satu bunyi janji yang dijunjung tinggi oleh 3R adalah bahwa mereka percaya tidak ada ide yang buruk. Mengingat hal tersebut, lahir seketika keberanianku untuk ikut berpendapat saat briefing dan evaluasi karena aku yakin pada mereka bahwa aku tidak akan dihakimi apapun argumentasi yang kubawakan. Proses briefing, simulasi, dan evaluasi terhadap kelas yang dilakukan setiap hari sangat membantu untuk meningkatkan penggunaan metode yang tepat digunakan setiap hari berharap dapat lebih baik dari hari sebelumnya. Tinggal dan berkolaborasi dengan relawan 3R lainnya membukakan banyak pemahaman baru bagiku, misalnya monormalisasi kesetaraan pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan, memperhatikan bagaimana etika berprilaku dengan teman dan masyarakat, dan masih banyak lagi. Setiap harinya tidak ada yang berlalu tanpa dapat kupetik minimal dua pelajaran baru melalui proses ini.
Setelah menghabiskan waktu belajar bersama di Desa Ketol, aku dan teman-teman relawan 3R lainnya mulai bersiap untuk pulang dengan penuh suka cita. Kami berterima kasih kepada alam Desa Ketol yang indah dan ramah kepada kami. Kami berterima kasih kepada semua orang yang sudah mendukung kami melangsungkan kegiatan Pustaka Kampung Impian (PKIP) dengan lancar tanpa ada hambatan. Kami berterima kasih kepada 3R yang sudah melibatkan kami dalam misi ini. Terima kasih, kutuai dan kubawa pulang banyak sekali pelajaran dari perjalanan ini. Aku akan merindukan Desa Ketol dan orang-orang yang terlibat dalam prosesnya.
Ditulis oleh Bela Lestari


