
Ditulis oleh : Putri Handayani
Perjalanan ke beberapa tempat yang berdampak banjir seperti Bireuen, Pidie Jaya, Aceh Tengah, serta Aceh Tamiang tidak membuat kami berhenti di situ saja. Diskusi bersama untuk melanjutkan langkah kebaikan menghasilkan sebuah keputusan bahwa tim akan turun ke Aceh Utara yaitu ke Desa Alue ie Mirah. Sebelum memilih desa tersebut, kami tim Rumah Relawan Remaja telah mengutus satu relawan yaitu Abu untuk melakukan survei terlebih dahulu tentang kondisi desa, jumlah anak, ibu hamil, dan orang tua. Setelah data kami dapati, dan kebutuhan kami ketahui, barulah kami putuskan akan mendatangi desa tersebut dengan membawa beberapa kebutuhan sesuai yang telah diobservasi sebelumnya.
Perjalanan kami mulai malam hari (11 Januari 2026), menggunakan truk bersamaan dengan logistik bawaan kami yang menghabiskan waktu lebih dari 10 jam. Menjelang pukul 10.00 WIB, kami tiba di Meunasah desa, langsung disambut oleh warga dan Geuchik (kepala desa) lalu kemudian kami menuju rumah Pak Geuchik untuk membersihkan diri. Lagi-lagi kehangatan hadir dalam menyambut kehadiran kami. Meski dalam keadaan rumah yang belum 100% bersih dari lumpur, tapi segalanya diupayakan agar kami bisa tinggal dengan nyaman di sana.
Agenda Peace School yang pertama kami laksanakan di sini dimulai dari drama tentang banjir. Ada beberapa peran yang kami lakoni yaitu sebagai sampah, seorang anak yang pernah membuang sampah ke sungai, sebagai ikan, sebagai udang, dan sebagai anak ikan. Setiap peran memiliki dialog untuk disampaikan dalam peran tersebut. Intinya pesan yang ingin kami sampaikan adalah tidak membuang sampah semabarangan, apalagi ke sugai. Penampilan kami dengan drama tersebut berhasil membuat anak-anak fokus menyimak setiap dialog dan gerakan yang kami lakukan. Setelah kelas selesai semua anak-anak kami bagikan pakai sekolah berupa tas sekolah, buku tulis, pulpen, pensil, pensil warna, spidol warna, rawutan, dan penggaris.

Selain membagikan paket sekolah, kami juga membagikan paket sembako sebanyak 237 keluarga di desa tersebut. Selanjutnya, kami juga membagikan pampers anak, pakaian dalam untuk laki-laki dan perempuan. Semua berjalan cukup tertib, karena pembagian juga dibantu oleh warga setempat.
Pada hari kedua kami di sana, kami berkunjung ke kecamatan Langkahan, tepatnya ke desa Gedumbak. Desa yang cukup banyak ditampilkan di media sosial mengenai kondisinya. Kami berangkat ke sana menggunakan mobil pick up. Debu yang berasal dari lumpur yang telah mengering membuat kami tak punya pilihan selain memakai masker sepanjang perjalanan. Namun, meskipun begitu berdebu hampir semua warga yang kami lewati tidak ada yang menggunakan masker. Entah karena mareka tidak punya masker, ataupun mereka tidak ingin menggunakannya.
Perjalanan ke desa Gedumbak ini melewati sebuah irigasi yang cukup besar sepanjang persawahan yang kami lewati. Pemandangan lainnya yang kami saksikan selain jalannya yang rusak penuh bebatuan adalah tanaman yang sangat dicintai oleh presiden ke-8 Indonesia yaitu sawit ada di mana-mana bahkan di halaman rumah setiap warga. Irigasi tersebut tidak memiliki air yang cukup, hanya semata kaki saja dan itu keruh bahkan di beberapa titik hanya genangan saja. Namun meskipun begitu warga yang tinggal dalam tenda di sepanjang aliran irigasi tersebut tidak memiliki pilihan selain memakai air tersebut karena tidak adanya air bersih. Ketika kami lewat, ada ibu-ibu yang sedang memandikan anaknya, ada juga seorang bapak yang sedang membersihkan badannya dengan air yang keruh itu.

Memasuki desa Gedumbak, kami langsung disambut oleh pemandangan kehancuran yang luar biasa. Rumah yang hancur, tanaman yang tumbang, lumpur, sampah, genangan air, peralatan rumah tangga yang telah berserakan di halaman, sangat amburadur. Kami berhenti dan turun untuk melihat-lihat di sekitar. Kemudian yang kami saksikan adalah lautan gelondongan kayu sejauh mata memandang. Gelondongan kayu yang telah memiliki nomorpun nyata kami saksikan, meskipun sebelumnya telah ada pernyataan dari penyelenggara negara bahwa itu adalah jamur. Melihat itu semua saya hanya bisa bertanya-tanya ke diri saya sendiri “serakus inikah manusia?”.
Dalam kunjungan tersebut teman-teman lainnya sempat mengobrol juga dengan ibu-ibu yang rumahnya di dekat lautan kayu tersebut. Ibu-ibu tersebut mengeluhkan kebunnya yang telah rusak, juga keinginan warga agar perputaran ekonomi bisa segera lancar kembali karena mereka memiliki hasil kebun tapi tidak tahu harus menjual kemana. Sudah lebih dari sebulan mereka tidak bekerja, hanya membersihkan apa yang bisa digunakan kembali juga sesekali mengantri untuk ambil bantuan.
Kami tidak berlama-lama di Gedumbak, kami langsung kembali ke desa Alue Ie Mirah. Keesokan paginya kami berangkat ke desa lainnya itu desa Biram Rayeuk, kecamatan Jambo Aye, Aceh utara untuk mengadakan agenda Peace School juga bersama adik-adik di sana. Kami tiba di desa tersebut menjelang siang, dan langsung disambut dengan makan siang bersama. Kuah bak pisang merupakan menu utama, kopi hitam sebagai minumannya, lalu tempe dan ikan asin sebagai tambahan. Jadilah siang itu kami makan bersama warga, dengan kehangatan yang membekas diingatan. Ketika dilihatnya piring kami mulai berkurang, baik nasi maupun lauknya, spontan saja ibu-ibu di depan kami mempersilakan kami agar menambah lagi, begitu juga dengan pak Geuchiknya.
Setelah makan siang dan obrolan dengan warga selesai, akhirnya kami ke mesjid untuk salat dhuhur dan siap-siap untuk berlajar bersama adik-adik dengan konten drama yang sama dengan adik-adik di desa Alue Ie Mirah. Bermain drama di desa ini juga tidak kalah menarik, karena anak-anak benar-benar antusias sekali menyaksikan penampilan kami. Bahkan para orang tua, berkumpul ke depan agar dapat menyaksikan penampilan kami. Lalu setelah drama selesai, anak-anak yang telah mampu menulis diminta untuk menuliskan harapannya untuk desa mereka, lalu untuk adik-adik yang belum mampu menulis kami bagaikan kertas dan spidol warna untuk menggambar apapun yang mereka senangi.
Melihat antusias ibu-ibu yang begitu ramai berhadir, maka ide hadir. Kak Ami berinisiatif membuka kelas membaca nyaring untuk ibu-ibu. Semua ibu-ibu menyimak dengan baik materi yang disampaikan. Hingga kemudian diakhir mereka (ibu-ibu) meminta kertas dan pensil warna juga untuk menggambar. Sangat manis. Di akhir kelas kami bagikan alat tulis dan jajanan untuk adik-adik dan ibu-ibunya. Sore tiba, kelas selesai dan kami berpamitan dengan Geusyik untuk kembali ke Alue Ie Mirah, karena besoknya kami akan kembali ke Banda Aceh.
Paginya, kami semua bersiap-siap untuk pulang. Cek dan packing. Lalu saya melihat ada beberapa jeruk bali dalam kardus yang masuk dalam barang yang akan kami bawa pulang. “Ini punya siapa, kak? Tanya saya pada kak Ami. “Ini dari Pak Bala tadi pagi, untuk kita bawa pulang” jelas kak Ami. Sangat terharu melihat kebaikan-kebaikan yang masih saja hadir bahkan dalam kekurangan sekalipun, sebagai adat pemulia jamee (memuliakan tamu) yang merupakan identitas orang Aceh. Alhamdulillah.


