Seni Rupa Dalam Karya Anak Usia Dini

Satu pertanyaan yang terbesit dalam pikiran saya tentang seni rupa anak usia dini Adalah “seberapa penting peran anak-anak dalam seni? Ataukah karena mereka masih anak-anak, maka mereka belum perlu mengetahui seni?”

Menurut Viktor Lowenfeld, dalam bukunya Creative and Mental Growth, perkembangan seni rupa pada anak berlangsung mulai dari coretan awal hingga gambar yang lebih realistis. Mari kita ulas sedikit apa yang dimaksud “Abang Viktor” dalam teorinya.

Pada usia 2–4 tahun (tahap coretan / scribbling stage), anak hanya menikmati gerakan tangan. Walaupun ada anak yang memberi nama pada coretannya, hal itu masih berupa bentuk abstrak. Selanjutnya, pada usia 4–7 tahun (tahap pra-skematik), bentuk-bentuk gambar mulai mewakili objek nyata, seperti gambar “manusia” dengan kepala, tangan, dan kaki, meskipun proporsinya belum akurat. Usia 7–9 tahun (tahap skematik) ditandai dengan gambar yang mengikuti skema berulang, misalnya rumah selalu berbentuk kubus dengan atap segitiga. Anak juga mulai konsisten dengan warna, seperti rumput berwarna hijau dan langit berwarna biru. Pada usia 9–11 tahun (tahap realisme awal), detail mulai diperhatikan, dan anak mulai memahami keterbatasan gambar mereka. Usia 11–13 tahun (tahap pseudo-realistis) adalah masa anak mulai memilih gaya (style) gambar, apakah realistis atau ekspresif. Terakhir, usia 13 tahun ke atas (tahap keputusan) merupakan masa pengambilan keputusan: apakah akan menjadi pembuat seni aktif atau hanya penikmat seni.

Inti pemikiran Viktor Lowenfeld adalah bahwa seni pada anak merupakan cerminan perkembangan mental dan emosional. Guru dan orang tua tidak seharusnya memaksakan standar realistis terlalu dini karena itu dapat menghambat kreativitas alami anak. Saya yakin setiap anak memiliki tingkatan kreativitas masing-masing. Namun ironisnya, pemikiran ini kurang mendapat perhatian serius dari guru dan orang tua di negara ini. Akibatnya, tidak ada standar yang pasti dalam seni rupa anak usia dini.

Pada akhirnya, kreativitas alami anak terhambat, ruang-ruang menjadi kaku, dan kurangnya inovasi merembet dari dunia pendidikan hingga pola hidup.

Pendidikan seni rupa anak usia dini bukan sekadar kegiatan menggambar atau mewarnai, tetapi sarana ekspresi diri. Apabila kesempatan ini diabaikan, anak cenderung kehilangan kepercayaan diri dan menjadi lebih takut mencoba hal-hal baru.

Bagi saya, ini belum terlambat. Masih banyak anak di luar sana yang nalarnya kreatif. Sebagai contoh, saat penempatan di Desa Bah, Kecamatan Ketol (Kab. Aceh Tengah), saya dan kawan-kawan relawan Pustaka Kampung Impian membuat kelas menggambar dan mewarnai di alam terbuka dengan menggunakan media kanvas dan cat air bersama anak-anak sekolah dasar.

Saya menemukan beberapa anak yang akhirnya saling mengikuti teman lainnya menggambar terpal biru.  Padahal, di depan mereka terbentang pemandangan yang sangat indah untuk digambar. Di sinilah saya merasakan ironi. Jika ekspresi seni anak dibatasi atau diabaikan, anak akan kehilangan kepercayaan diri serta kreativitas alaminya. Efek jangka panjangnya, saya berpikir seorang anak menjadi takut mencoba hal baru, cenderung mengikuti pola aman, dan sulit berinovasi.

Di momen yang bersamaan, saya melihat beberapa anak usia dini, salah satunya seorang anak yang usianya hampir 3 tahun menggambar di kertas dengan coretan yang sangat berani dan tegas. Awalnya saya bingung apa yang ia ekspresikan. Beberapa kali saya tanya, ia hanya tersenyum. Namun akhirnya saya mengerti bahwa ia sangat senang dengan kegiatan memotong rumput. Ia juga sangat kreatif. Bagaimana tidak? Ia memperagakan sepotong ranting seperti mesin potong rumput.

Aktivitas seni bersama anak-anak di desa ini menguatkan asumsi saya tentang seni rupa yang hadir dalam usia dini anak-anak. Mereka begitu kreatif. Sayangnya, di saat bersamaan saya membayangkan kreativitas alami seperti ini bisa hilang akibat pendidikan negeri yang kaku atau mungkin karena para pemimpin negeri ini belum pernah merasakan pendidikan seni rupa. Entahlah!

Intinya, sebagai seorang seniman yang juga relawan, saya sungguh berharap kita ambil peran menumbuhkan keliaran imajinasi yang dimulai dari anak-anak usia dini! Bebaskan mereka menggerakkan ide melalui coretan, kuas atau pun pensil warna mereka!

Ditulis oleh Muhammad Aries Diansyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *