
Pustaka kampung Impian yang merupakan pustaka Rumah Relawan Remaja, bukan hanya sebuah program literasi, tapi aksi nyata dari para relawan yang ikut terjun langsung mengembangkan masyarakat. Beberapa desa yang berada di ujung pelosok Aceh mendapat perhatian khusus dari Pustaka Kampung Impian dalam menggali, mengembangkan literasi, dan menguak karya anak desa melalui budaya dan kearifan lokal setempat. Selain daripada itu, Pustaka Kampung Impian juga juga memperhatikan secara khusus terhadap pengelolaan lingkungan. Adapun desa-desa tersebut adalah; Desa Baling Karang (Aceh Tamiang), Desa Bah (Aceh Tengah), Desa Sarah Baru (Aceh Selatan), Desa Lapeng (Pulo Aceh), dan Lam Lumpu (Aceh Besar).
Pada tahun 2016 Rumah Relawan Remaja menginisiasi program jangka panjang bernama Pustaka Kampung Impian, dengan tujuan memperkuat literasi di desa-desa khususnya daerah 3T, mereka bergerak langsung ke lokasi desa-desa tersebut. Jangka waktu relawan mengajar di desa pada awalnya berkisar 2 minggu hingga lebih dari satu bulan. Para relawan yang mengabdi di Pustaka Kampung Impian, cukup beragam latar belakang pendidikan mereka, mulai dari pendidikan, psikologi, kesenian, teknik dan lainnya, namun mereka memiliki tujuan yang sama untuk mencerdaskan bangsa melalui program literasi, budaya, dan lingkungan. Para relawan ini juga terus berganti generasi, ada yang masih tetap stay di komunitas, ada pula yang sudah berhenti dan melanjutkan perihal lainnya, namun demikian para relawan terus bergerak saling membantu dan tetap ikut terlibat dalam menyukseskan acara festival ini dengan caranya masing-masing.
Berbagai hasil kelas-kelas bersama masyarakat khususnya anak-anak dan relawan pun akhirnya dipamerkan melalui medium yang diberi tajuk Festival Pustaka Kampung Impian.
Festival Pustaka Kampung Impian ini diadakan pertama kali pada tahun 2018. Tahun ini, menandai perjalanan Festival Pustaka Kampung Impian yang ke-7 kalinya. Pelaksanaannya dimulai pada 29 September – 3 Oktober 2025 di Mal Baca atau area Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh yang dulu dikenal dengan Pustaka Wilayah.
Festival tahun ini memberangkatkan sembilan puluh anak serta pendamping dari 5 desa lokasi Pustaka Kampung Impian yang sudah disebutkan sebelumnya. Ada beberapa anak yang sudah ikut festival tahun lalu, dan banyak diantara mereka yang baru pertama kalinya menjadi perwakilan desa masing-masing. Kedatangan anak-anak dari desa ini disambut dengan sangat baik oleh teman-teman relawan. Segala hal telah disiapkan oleh panitia festival dalam menyambut dan mempersiapkan momen penampilan istimewa dalam gelaran ini.
Antusias yang luar biasa dari para relawan dalam menyambut Festival Pustaka Kampung Impian telah dilaksanakan jauh-jauh hari. Karya-karya anak dalam masa satu tahun dikumpulkan untuk dipamerkan, kerjasama dan gotong-royong tim dalam menyukseskan festival ini adalah dengan membentuk relawan festival. Semua relawan saling bahu membahu dalam menyukseskan acara festival, khususnya tim kurator yang telah menyumbangkan banyak ide dan tenaga dalam suksesnya Festival Pustaka kampung Impian tahun ini.
“Festival Pustaka Kampung Impian tahun ini berlangsung lima hari, lebih panjang dari gelaran festival Pustaka Kampung Impian sebelumnya. Di micro festival ini, kami menghadirkan penampilan istimewa dari anak-anak lokasi Pustaka Kampung Impian yang bersuku Aceh, Gayo, Aneuk Jamee dan Kluet. Festival ini semoga bisa terus hadir untuk menjadi pembuka akses kesetaraan, menjadi ruang kolaborasi dan memberi pengetahuan bahwa setiap anak bisa mengembangkan potensi jika diberikan kesempatan.” Demikianlah sedikit potongan ucapan Rahmiana Rahman mewakili tim Pustaka Kampung Impian yang dipaparkan dalam sesi pembukaan, 29 Oktober 2025.
Selama membersamai para tim relawan dan melihat anak-anak menunjukkan yang terbaik, saya melihat berbagai kearifan lokal sangat kuat di momen Festival Pustaka Kampung Impian ini. Meskipun penampilan anak-anak di area pertunjukan hanya berlangsung 29 – 30 September 2025, karya para pameris bisa terus dilihat di ruang pamer. Ragam karya yang dipamerkan berupa lukisan dengan beberapa media, kerajinan tangan, permainan tradisional, dan berbagai jenis karya lainnya seperti scrapbook, hasil meramban dan ekspresi emosi. Tidak hanya itu, spot untuk baca juga disediakan dalam festival ini, untuk menunjukkan program utamanya adalah meningkatkan literasi.
Merujuk dari pembahasan sebelumnya bahwa Pustaka Kampung Impian tidak hanya fokus pada pengembangan literasi, namun juga melihat aspek sustainabilitas melalui pelestarian lingkungan. Upaya ini pun terus dilakukan melalui kelas-kelas di Pustaka Kampung Impian. Hasilnya juga bisa kita nikmati selama Festival Pustaka Kampung Impian, seperti lukisan yang dihasilkan dari limbah kertas yang didaur ulang, bunga yang dibuat dari limbah plastik, aneka gantungan dan pajangan dari limbah plastik dan kertas. Beberapa karya lainnya seperti pajangan dari kain bermotif bunga dan daun, dibuat menggunakan material alam dengan teknik ecoprint/ pounding, teknik ini menggunakan cara alami untuk membuat motif yaitu dengan cara menempel daun atau bunga pada kain yang kemudian dipukul atau diketuk dengan palu atau batu sehingga warna dan motif dari daun dan bunga terekstrak ke kain. Contoh karya lainnya menggunakan material alam adalah karya ekspresi wajah yang menggunakan batu (batu disusun membentuk ekspresi wajah).
Sejak hari pertama hingga hari kelima pameran, pengunjung terus berdatangan dari berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak pendidikan usia dini, remaja, mahasiswa, hingga orang tua. Tampak pengunjung sangat antusias dalam menikmati pameran festival, bahkan ada diantara mereka yang datang lagi dihari berikutnya atau mengajak orang lain untuk ikut serta melihat pameran karya Festival Pustaka Kampung Impian. Banyak mahasiswa yang datang untuk belajar dari kegiatan festival ini. Pengakuan dari salah seorang pengunjung mengatakan “kegiatannya luar biasa, saya tidak tahu bahwa di Aceh yang seperti ini”, mendengar hal ini, ada rasa haru tersendiri akhirnya orang-orang disekeliling kita yang bukan relawan juga merasakan kebermanfaatan dari kegiatan ini, karena pada akhirnya bukan hanya tentang memamerkan karya, tetapi didalamnya juga terselip rasa semangat perjuangan dan harapan untuk kita semua, terkhusus untuk anak-anak desa agar terus tumbuh menjadi lebih baik. Karena itu, semoga kegitan festival ini dapat memberi manfaat bagi kita semua dan tentunya dapat membuka cakrawala pola pikir kita dalam melihat kegitan yang peduli terhadap pendidikan anak-anak desa.
Keberadaan anak-anak dari desa di Banda Aceh sejak hari Minggu/ 28 September 2025, dengan mengadakan gladi bersih pada hari tersebut. Berikutnya setelah dua hari (29-30 Oktober) tampil pentas seni pada acara festival, pada tanggal 1 Oktober anak-anak dibawa ketempat sejarah di Banda Aceh; Museum Tsunami Aceh, Museum Aceh, dan Masjid Raya Baiturrahman. Anak-anak dari Desa Baling Karang, Desa Bah, Desa Sarah Baru pulang kembali ke desanya pada tanggal 1 Oktober di malam harinya, sementara anak Desa Lapeng pulang kembali ke desa pada tanggal 2 Oktober, dan Desa Lampumpu yang berlokasi di Aceh Besar dapat pulang ke rumah pada tanggal 1 maupun tanggal 2 Oktober.
Malam yang cukup berkesan, pada tanggal 1 Oktober, diadakan makan malam bersama antara para relawan festival dan anak-anak dari desa, yang berlokasi di kantor Rumah Relawan Remaja di Lamlumpu Aceh Besar. Setelah makan malam bersama diiringi tawa dan cengkerama, berakhir dengan kata-kata sambutan dari tiap-tiap relawan dan pendamping desa. Besar harapan dari para relawan dan pendamping desa semoga kegiatan Festival Pustaka Kampung Impian ini terus berlanjut. Mobil jemputan pun mulai datang, dan anak-anak serta pendamping desa pun kembali ke kampung halaman. Semoga kegiatan festival ini membawa kebaikan untuk anak-anak desa, para relawan, dan pengunjung.
Ditulis oleh Siti Shara



Oktober, 2025


