“The Power Of ” Kampung

DSC_0913-2

Suatu hari saya mengunjungi sebuah pasar di sebuah kampung. Untuk ke sebuah pasar dadakan yang hanya terdiri dari dua buah truck yang berisi sembako di setiap hari Sabtu itu, para warga kampung harus menggunakan rakit untuk menyeberang sungai. Saya pun menyeberangi sungai. Setibanya di pasar, saya melihat salah satu warga kampung menjual banyak buah kelapa kepada pemilik truck , sementara pada waktu bersamaan ada beberapa warga kampung yang membeli buah kelapa tersebut dari pemilik truck. Terbesit pertanyaan di benak saya, tidak bisakah lagi mereka yang butuh sebuah kelapa meminta kepada tetangga kampungnya, tanpa harus menyeberang sungai untuk membeli kelapa?


Cerita lain, masih di sebuah kampung. Tampak laki-laki dengan gigihnya memotong kayu. Yah, itu bentuk dari praktik illegal logging. Mereka menebang kayu secara berlebihan untuk mengikuti iming-iming materi dari para cukong. Tentu saja, untuk menutupi kebutuhan keluarga mereka sendiri. Hasilnya, memang ada. Tapi dampak negatifnya lebih banyak. Uang diterima saat itu juga, para cukong menikmati dengan kuasanya, tapi generasi selanjutnya hanya bisa bersedih meratapi kayu, pepohonan dan berbagai hasil alam kampungnya hanya tinggal cerita. Semuanya karena ketamakan dan kurangnya kepekaan sosial
Dua pengalaman di atas itu membuat saya semakin menyadari bahwa saat ini, masih ada segelintir orang yang tidak ingin berbagi dengan orang di sekitarnya. Semoga masih segelintir, tidak sebanyak di pikiran saya. Seolah kepekaan sosial semakin berkurang. Nafsi-nafsi, perkara sendiri harus diselesaikan sendiri.
Di satu sisi, kurangnya kepekaan sosial seolah menjadi sebuah masa yang tidak bisa terelakkan. Keberadaan manusia saat ini diliputi oleh berbagai persaingan, baik dari sisi ekonomi, budaya, karir, kehidupan keluarga dan berbagai hal yang kasat mata. Inilah yang membuat pola pikir orang berubah menjadi materialis. Semua yang baik hanya dinilai secara materi. Tidak mengherankan jika yang terjadi adalah setiap orang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Berbagai cara pun dipikirkan. Berbagai usaha pun dilakukan. Bahkan orang-orang kampung yang merasa mereka tinggal di tempat yang tidak diperhatikan, akhirnya memilih pindah ke kota yang katanya memberi harapan. Padahal, kita tidak seharusnya menganggap tinggal di kampung adalah sesuatu yang tidak maju.

Menurut saya, kesejahteraan sebuah pemerintahan bisa dilihat dari kesejahteraan di kampung sebagai struktur pemerintahan yang paling kecil. Jika di kampung saja tidak bisa mandiri, bisa tergambarkan bahwa pemerintah tidak hadir untuk masyarakatnya, tapi hanya sekadar mendikte. Kampung memegang andil besar dalam kemajuan dan kemakmuran sebuah pemerintahan.
Oleh karena itu, perlu dukungan banyak pihak untuk membuat kampung lebih mandiri, memaksimalkan potensi di kampung untuk kesejahteraan masyarakat di sana dengan kearifan lokal yang tidak terabaikan. Bukan merubah kampung menjadi modern sehingga dikuasai oleh kapitalis.
Dukungan yang diberikan adalah mendukung orang-orang tetap tinggal di kampung untuk tetap hidup dengan cara-cara mereka sendiri. Mereka bisa lebih sadar bahwa kampung mereka adalah tempat yang tepat untuk mereka dan generasi-generasi selanjutnya. Hingga pada akhirnya tidak banyak lagi kampung menjadi kota dengan lahan industrialisasi yang tumbuh dengan rakus.
Meski sulit membendung modernisasi, tapi kita bisa hadir di kampung meminimalisir kerusakan yang ada, sehingga beberapa generasi di belakang kita masih bisa menikmati.
Bagian gerakan mendukung eksistensi kampung ini adalah bagian dari mempertahankan kehidupan yang sederhana dan bersahaja, dan tentu saja mereduksi pribadi yang tamak. Kesederhanaan membuat kita selalu berbagi untuk orang banyak. Membuat kita menjadi seseorang dengan naluri yang bersahabat. Sehingga kita tidak meraup sesuatu tanpa sisa. Kesederhanaan mengajarkan kita tentang hidup bersama, menyatu dengan alam, tanpa terpengaruh oleh modernisasi yang kebablasan.
Dengan pemahaman dan pengaplikasian konsep hidup yang sederhana dan bermakna, kita bersama akan lebih peduli pada hal-hal kecil di sekitar kita. Sehingga pada akhirnya, kita akan menciptakan tempat yang lebih baik dan damai untuk kita dan generasi selanjutnya.

Oleh : Romi

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *