Sekolah Damai Untuk Rohingya di Lhokseumawe

Mengorganisir kegiatan singkat di Kamp Pengungsi Rohingya di Lhoksemauwe, Aceh Utara adalah momen-momen menakjubkan kami – para relawan 3R – minggu lalu, khususnya pada tanggal 22 – 23 Juli. Kami melaksanakan Sekolah Damai untuk para pengungsi Rohingnya yang ada di sana sejak penghujung Juni, tahun ini.

Selama dua hari, kami bermain dengan anak-anak dengan beberapa kegiatan yang menyenangkan seperti Liga Sarung, Puzzle dan lainnya. Para relawan juga bernyanyi dan membuat kertas wayang. Sungguh menakjubkan melihat anak-anak berkumpul dan tersenyum bersama. Untuk kegiatan bersama para perempuan Rohingya, membuat bros dan ikan rambut menjadi pilihan. Keterampilan menjahit para perempuan Rohingya membuat kami kagum. Beberapa dari mereka dapat menjahit bros lebih dari satu. Ada banyak momen yang menyentuh dan menyedihkan yang para relawan dengar sembari menjahit tersebut seperti seorang wanita yang benar-benar merindukan tunangannya di Malaysia, kondisi ketika mereka berada di laut selama beberapa bulan, mereka yang meninggal di laut dan yang lainnya. Sesi menjahit membuat para relawan 3R dan pengungsi Rohingya merasa lebih dekat.

Kami merasakan kendala bahasa karena hanya mengerti beberapa kata dan kalimat. Namun, penghalang itu tidak menjadi hambatan besar dalam bermain dengan anak-anak Rohingya dan berkumpul dengan perempuan Rohingya. Kami lebih sering menggunakan bahasa tubuh sebagai isyarat atau mengatakan “morfoati ayyo” (berarti: ikuti saya) sebagai salah satu instruksi untuk membuat anak-anak Rohingya mengerti.

* * *

Terkadang, sulit untuk membayangkan bagaimana apa yang kita lakukan di Sekolah Damai teraplikasi ke “dunia nyata.” Tapi, pada kenyataannya, ada kisah tanpa akhir yang harus memperkuat harga diri kita. Semua kegiatan selama di sekolah damai semoga bisa mengembangkan komitmen, kesetiaan, tekad, empati, inisiatif, dan keberanian. Oleh karena itu, selama sesi evaluasi, Romi sebagai Pendiri 3R mengingatkan kami untuk tidak berpikir telah membantu atau memberikan sesuatu kepada orang-orang Rohingya pada kegiatan Sekolah Damai, tetapi untuk berpikir bahwa perasaan empati itu terus digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

ditulis oleh Rahmiana Rahman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *