Sang Rajudin

Rajudin anak kelas munilis dasar

Rajudin anak kelas munulis dasar

Ini  penempatan ke empat ku, kali ini aku di tugaskan di salah satu desa terpencil di Pulo Aceh, tepatnya di desa Lapeng, kabupaten Aceh Besar. Aku ingin sedikit bercerita tentang salah satu anak dengan semangat belajar  yang luar biasa, yang membuat ku merasa malu pada diri sendiri, malu karena betapa manja dan suka mengeluhnya aku di bandingkan bocah kecil itu.

Namanya Rajudin, 6 tahun. Ia satu-satunya anak kelas Membaca Dasar yang tempat tinggalnya paling jauh dari lokasi belajar. Rumahnya berada di atas bukit penghujung perkampungan. Dengan akses jalan yang sangat buruk, Rajudin harus menempuh jarak lebih kurang 1 km setiap harinya. Berjalan seorang diri di perkampungan yang sepi tidak menyurutkan niat Rajudin untuk datang belajar. Sesekali jika kebetulan ada masyarakat yang menggunakan sepeda motor melintas, Rajudin akan diajak naik bersama. Namun acap kali Rajudin berjalan kaki seorang diri dan seringnya tiba ditempat belajar dalam keadaan terengah-engah, kelelahan karena berlari kencang agar cepat tiba di tempat belajar. Terkadang, untuk mengantisipasi agar tidak terlambat, Raju, begitu ia biasa di panggil, turun ke perkampungan dari pagi hari, sehingga saat jam makan siang tiba sang anak sering menumpang makan di rumah salah satu kerabat  yang letaknya tidak jauh dari lokasi belajar.

Semangatnya juga terlihat ketika sedang mengikuti kegiatan belajar, Rajudin selalu fokus pada materi yang di sampaikan,  ia selalu mengerjakan tugas dengan serius meski sering kali menjadi anak yang paling terakhir selesai. Dan yang lucunya lagi, Rajudin selalu keberatan jika materi belajar pertama kami berupa permainan atau game, dia selalu bersikeras bahwa materi pertama belajar harus menulis, setelahnya barulah boleh bermain atau bersenang-senang. Buatnya belajar ya menulis. “Hai kak Nuron (begitu biasa ia memanggil nama ku), teumuleh mantoeng kakhana hayeu meu’en-meu’en”,  “Hai kak Nurul, menulis saja kak, tidak seru main-main”, begitu katanya dengan aksen  Aceh yang sangat kental.  Aku hanya tersenyum, seraya dalam hati berbisik; Rajudin,, Rajudin,, kamu tidak tau dik, kalau belajar itu tidak harus menulis, bemain juga salah satu cara untuk belajar,  jika sudah begitu aku mengelus kepalanya dan berteriak pada semua: “Oke anak-anak, sekarang kita belajar menuliiiiiiiis,,,,,”  kelas seketika riuh dengan teriakan puas Rajudin dan teman-temannya, dan sayapun ikut tertawa.

Begitu juga waktu bernyanyi bersama tiba, di akhir kegiatan belajar, aku dan anak-anak menyanyikan satu dua lagu sebagai penutup kelas. Diantara 12 anak kelas Membaca Dasar, Rajudin yang suaranya paling kencang di bandingkan yang lain. Meskipun nada dan liriknya terkadang meleset tapi Rajudin tetap semangat bernyanyi.

Tidak lengkap rasanya suasana kelas jika Rajudin tidak datang. Guru dan anak-anak lainnya sudah terbiasa dengan kehadiran Rajudin yang selalu mampu menularkan semangat di dalam kelas. Saya sudah terbiasa mendengar derap langkahnya berlari di lorong kelas, mengucap salam dari kejauhan, “ ASSALAMUALAIKUUUUUM,,,”  Teriaknya dari lorong yang berjarak 15 meter dengan kelas itu, seakan-akan salamnya itu bermakna: “ KAKAAAAAK, SAYA DATANG, JANGAN TUTUP DULU KELASNYA”.  Aku tesenyum seraya dalam hati berbisik: “Itu dia, Rajudin ku sudah datang J” Dengan muka memerah dan nafas tersengal-sengal  dia masuk kelas, siap untuk belajar dan membagikan semangatnya pada ku dan pada anak-anak lainnya.

Rajudin, anak berusia 6 tahun itu memberikan sebuah pelajaran baru buat ku. Bahwa  selalu ada halangan dan kesulitan dalam menggapai sebuah tujuan, namun demikian halangan dan kesulitan hadir bukan untuk di hindari, melainkan untuk di jalani dan di taklukkan. Semoga kisah Rajudin ini menginspirasi kita semua

 Penulis  : Guru Impian Kelas Membaca Dasar   “Nurul Fitri Azlin”

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *