Melihat Lokasi Karantina Haji di Pulau Rubiah

IMG20190831144525 (2)

Islam merupakan agama terbesar di Indonesia. Aceh merupakan ikon keislaman Indonesia dengan sebutan Serambi Mekkah. Pernahkah terlintas di pikiran kita mengapa Aceh disebut demikian?. Selain karena Aceh adalah tempat pertama kalinya dakwah Islam dimulai dengan adanya kerajaan Islam Samudera Pasai di Aceh Utara, Aceh disebut Serambi Mekkah karena adanya sebuah tempat istimewa di Pulau Rubiah. Pulau Rubiah yang merupakan salah satu tujuan wisata di Sabang menyimpan sebuah tempat karantina haji yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda.

Konon, dahulu penyakit lepra menjadi hal yang paling ditakuti di seluruh dunia. Sehingga siapa saja yang akan atau baru pulang dari luar negeri harus mengikuti karantina terlebih dahulu. Seluruh jamaah haji Indonesia, yang pada zaman itu untuk berhaji harus menggunakan kapal laut selama berhari-hari lamanya. Sebelum diberangkatkan, para jamaah haji melalui masa karantina. Setelah pulang pun dilakukan hal yang sama, saat dibuktikan aman dari penularan lepra barulah jamaah dipulangkan ke daerah masing-masing. Karena hal tersebutlah, sebutan Serambi Mekah melekat untuk Aceh.

Lokasi Karantina haji di pulau Rubiah merupakan gedung besar yang dibangun oleh Belanda dengan kamar-kamar yang dapat menampung ratusan jamaah haji Indonesia. Bangunan ini tergolong megah pada waktu itu. Berbanding terbalik dengan apa yang ditinggalkan saat ini. Gedung karantina haji yang terletak di tengah-tengah pulau Rubiah tampak tak terawat bahkan akses jalan menuju kesana juga terasa menyeramkan. Situs sejarah yang tampak terlupakan ini hanya menyisakan gedung kosong dengan lima kamar besar, toilet yang kotor dibelakang gedung, atap-atap yang bolong dan hutan lebat disekitaran gedung. Tak tampak juru kunci atau penjaga yang siap sedia menjelaskan sejarah gedung tersebut kepada pengunjung.

Dari beberapa sumber artikel di internet yang ditemui, bahkan ada yang menyebutkan bahwa gedung yang ada tersebut adalah gedung baru yang dibangun untuk menggantikan gedung asli yang memang sudah rusak parah dan tidak mungkin untuk dikunjungi. Padahal, sebagai tempat yang memiliki sejarah besar untuk Indonesia, patutnya Dinas Pariwisata atau Dinas terkait lainnya di bawah pengaturan pemerintah dapat memberikan perawatan pada situs-situs penting sejarah. Apalagi gedung karantina haji di pulau Rubiah ini merupakan pondasi terbentuknya asrama haji di seluruh Indonesia.

Ditulis oleh Nourica Hastuti

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *