Berbagai Pelajaran Sederhana Dari Desa Balingkarang

Berbagai Pelajaran Sederhana Dari Desa Balingkarang

Desa Balingkarang yang merupakan salah satu tempat pelaksanaan Pustaka Kampung Impian memberi banyak pelajaran baru bagi latihan hidupku. Kabut dan dingin pagi bagai tameng pelindung untuk buruknya prasangka. Terik mentari siang menerobos masuk menyinari hati yang gelap oleh dusta. Hujan rintik sore bisa padamkan api benci dan curiga. Kerlip bintang malam buat kuat ingatan tentang syukur dan harapan. Dalam lamun aku tersadar, terlalu banyak nikmat-Mu yang membuatku lupa, siapa aku, siapa dia, siapa mereka dan siapa Engkau ya Rabb.

 

Di Balingkarang, aku bertemu banyak anak desa yang bahagianya sederhana namun penuh makna. Main bersama alam tapi tak merusaknya. Sekolah seadanya namun semangat terus ada. Pernah aku berpikir untuk membawa sorak sorai jalan kota agar kampung ini lebih tampak hidup. Tapi aku salah, kampung ini hidup dengan indahnya sepi. Pernah ingin aku membawa cahaya terang lampu kota ke kampung ini, agar malam tak tampak suram. Namun, lagi-lagi aku salah. Malam mereka lebih indah, indahnya sinar bulan kadang bersamaan dengan tebaran bintang. Aku hanya bisa tertawa. Tepatnya tertawa malu. Sebenarnya siapa yang kekurangan? Aku atau mereka? Aku yang mencari senyuman, sedang mereka menciptakannya. Aku yang berpikir bahagia, sedang mereka merasakannya. Ternyata aku masih belum jauh berjalan. Karena hal sederhana yang kuremehkan adalah kebahagiaan bagi mereka. Bagiku juga.

 

Di desa ini juga, aku menyadari hal lain yang ditakdirkan Tuhan untukku, dipertemukan dengan keluarga baru yang menjadi bagian penting lainnya dalam perjalanan belajarku di sini. Di satu sisi, aku merasa semakin mengenal mereka karena kebersamaan ini. Ada beberapa hal baru yang kutemui. Hal-hal berbeda dengan segala penilaianku tentang mereka sebelum ini. Disini aku akhirnya bisa merasakan menjadi anak yang memiliki 2 kakak laki-laki. Banyak pelajaran hidup yang tak sengaja aku dapatkan dari kedua kakak laki-laki. Misalnya tindakannya yang membuatku berpikir sedikit menumbuhkan beberapa idenya dalam pikirku. “Jika niat kita baik, maka apapun yang datang juga baik”, nasehatnya yang sangat ku ingat.

 

Terlepas dari berbagai pengalaman dan pelajaran dari kebersamaan dengan keluarga baru, aku belajar banyak dari masyarakat di desa terpencil yang terletak di Kabupaten Aceh Tamiang ini.

 

 

Ditulis oleh Nourica

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *